Pembelajaran
seyogyanya berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan yaitu yang didasarkan
pada:
a.
Needs
assesment (sesuai dengan kebutuhan)
b.
Dikembangkan
dalam suasana membantu (helping relationship):
1. Empati
2. Keterbukaan
3. Kehangatan Psikologis
4. Realistis
c.
Bersifat
memfasilitasi
d.
Berorientasi
pada:
1. Learning to be : belajar menjadi
2. Learning to learn : belajar untuk
belajar
3. To work : belajar untuk bekerja dan
berkarir
4. And to live together : belajar untuk
hidup bersama
5.
Tujuan
utama perkembangan potensi secara optimal
Pembelajaran disekolah memerlukan pendekatan,
strategi, metode, teknik, taktik dan model pembelajaran agar peserta didik
dapat menerima ilmu dengan mudah dan terarah.Setiap peserta didik memiliki hak
untuk mendapatkan pelayanan yang baik dari semua guru di sekolah, maka guru
haru memiliki kemampuan untuk memilih pendekatan, strategi, metode, teknik,
taktik dan model pembelajaran yang akan diguakan dalam kegiatan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai
titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk
pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum,
di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu Dilihat dari pendekatannya,
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
(1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach)
(2) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
Dari
pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam
strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003)
mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1. Menetapkan
spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku
dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan
dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan
dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan
norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku
keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008)
mengemukakan bahwa strategi pembelajara adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina
Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna
perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual
tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran.
Dilihat
dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula,
yaitu:
(1)
exposition-discovery learning
(2)
group-individual learning
(Rowntree
dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya,
strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan
strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual
dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran
tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving
something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya
(2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, diantaranya:
(1)
ceramah
(2)
demonstrasi
(3)
diskusi
(4)
simulasi
(5)
laboratorium
(6)
pengalaman lapangan
(7)
brainstorming
(8)
debat
(9)
simposium, dan sebagainya.
Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara
yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara
spesifik.
Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Apabila antara
pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah
terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut
dengan model pembelajaran. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan
bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik
pembelajaran. Berikut model-model pembelajaran :
1. Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran
Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan
antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan
dari TK SD SMTP SMTA dan PT.
Landasan Filosofis model Pembelajaran
Kontekstual :
Landasan
filosofi CTL adalah konstruktivisme artinya filosofi belajar yang menekankan
bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksi
pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan
harus utuh. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh
John Dewey pada awal abad ke 20 yaitu filosofi belajar yang menekankan kepada
pengembangan minat dan pengalaman siswa.
a. CTL
mencerminkan konsep saling bergantungan.
b. CTL
mencerminkan prinsip deferensiasi
c. CTL
mencerminkan prinsip pengorganisasian diri
Komponen
pembelajaran kontekstual, yaitu:
(1)
Konstruktivisme,
(2)
Inkuiri,
(3)
Bertanya,
(4)
Masyarakat belajar,
(5)
Pemodelan,
(6)
Refleksi,
(7)
Penilaian
2. Model
pembelajaran kooperatif
Salah
satu model pembelajaran adalah model cooperative learning yang sudah
mulai diaplikasikan semenjak akhir tahun 1970-an. Menurut Ina (2008): ―Model cooperative learning beranjak
dari dasar pemikiran getting better together yang menekankan pada
pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada
siswa untuk memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta
keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di
masyarakat. Menurut Noor (2008) untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur
model cooperative learning harus diterapkan:
a. Saling
ketergantungan positif. Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha
setiap anggotanya.
b. Tanggung
jawab perseorangan. Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran cooperative
learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang
terbaik.
c. Tatap
muka. Dalam pembelajaran cooperative learning setiap kelompok harus
diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini
akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan
semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan
kelebihan, dan mengisi kekurangan.
d. Komunikasi
antar anggota. Unsur ini juga menghendaki agar para pembejar dibekali dengan
berbagai keterampilan berkomunikasi.
e. Evaluasi
proses kelompok. Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya
bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan
setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu.
3. Model
Inquiry Training
Untuk
model ini, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif,
manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivuality
secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara
berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan
eksplorasi, dan yang ketiga— kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati
diri dan sikap ilmiah.
Model
inquiry training memiliki lima langkah pembelajaran (Joyce & Weil,
1980), yaitu:
a.
Menghadapkan masalah (menjelaskan prosedur
penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan),
b.
Menemukan masalah (memeriksa hakikat obyek dan
kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah),
c.
Mengkaji data dan eksperimentasi (mengisolasi
variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis),
d.
Mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan,
dan
e.
Menganalisis proses penelitian untuk memperoleh
prosedur yang lebih efektif.
4. Model Reasoning and Problem Solving
Reasoning
merupakan bagian berpikir yang berada di atas level memanggil (retensi),
yang meliputi: basic thinking, critical thinking, dan creative
thinking. Termasuk basic thinking adalah kemampuan memahami konsep.
Kemampuan-kemapuan critical thinking adalah menguji, menghubungkan, dan
mengevaluasi aspek-aspek yang fokus pada masalah, mengumpulkan dan
mengorganisasi informasi, memvalidasi dan menganalisis informasi, mengingat dan
mengasosiasikan informasi yang dipelajari sebelumnya, menentukan jawaban yang
rasional, melukiskan kesimpulan yang valid, dan melakukan analisis dan
refleksi. Kemampuan-kemampuan creative thinking adalah menghasilkan
produk orisinil, efektif, dan kompleks, inventif, pensintesis, pembangkit, dan
penerap ide.
Problem
adalah suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang mengkonfrontasikan
individu atau kelompok untuk menemukan jawaban dan problem solving adalah
upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan,
pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi
tuntutan situasi yang tak lumrah tersebut (Krulik & Rudnick, 1996). Jadi
aktivitas problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir
apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Kemampuan
pemecahan masalah dapat diwujudkan melalui kemampuan reasoning.
Model
reasoning and problem solving dalam pembelajaran memiliki lima langkah
pembelajaran (Krulik & Rudnick, 1996), yaitu:
a.
Membaca dan berpikir (mengidentifikasi fakta dan
masalah, memvisualisasikan situasi, mendeskripsikan seting pemecahan,
b.
Mengeksplorasi dan merencanakan
(pengorganisasian informasi, melukiskan diagram pemecahan, membuat tabel,
grafik, atau gambar),
c.
Menseleksi strategi (menetapkan pola, menguji
pola, simulasi atau eksperimen, reduksi atau ekspansi, deduksi logis, menulis
persamaan),
d.
Menemukan jawaban (mengestimasi, menggunakan
keterampilan komputasi, aljabar, dan geometri),
e.
Refleksi dan perluasan (mengoreksi jawaban,
menemukan alternatif pemecahan lain, memperluas konsep dan generalisasi,
mendiskusikan pemecahan, memformulasikan masalah-masalah variatif yang
orisinil).
5. Model Problem-Based Instruction
Problem-based
instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham
konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan
pemecahan masalah otentik (Arends et al., 2001).
6. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
Pengetahuan
yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang
secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. Sementara
pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa
konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik
kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu: (1) mempertahankan
intuisinya semula, (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi,
dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan
mengakomodasikan pengetahuan baru. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa
memutuskan pada pilihan yang ketiga. Agar terjadi proses perubahan konseptual,
belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang
dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook, 1993). Ini berarti
bahwa mengajar bukan melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan
memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahan
konseptual (Hynd, et al,. 1994). Proses negosiasi makna tidak hanya
terjadi atas aktivitas individu secara perorangan, tetapi juga muncul dari
interaksi individu dengan orang lain melalui peer mediated instruction.
7.
Model
Group Investigation
Ide
model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif
filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus
memiliki pasangan atau teman. Model group-investigation memiliki enam
langkah pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu:
a.
grouping (menetapkan jumlah anggota
kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan),
b.
planning (menetapkan apa yang akan
dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya),
c.
investigation (saling tukar informasi dan
ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat
inferensi),
d.
organizing (anggota kelompok menulis
laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan
notulis),
e.
presenting (salah satu kelompok
menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan
pertanyaan atau tanggapan),
f.
evaluating (masing-masing siswa melakukan
koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa
dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan
penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
8.
Model
Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
tematik adalah pembelajaran berdasarkan tema untuk mempelajari suatu materi
guna mencapai kompetensi tertentu. Tema adalah suatu bidang yang luas, yang
menjadi fokus pembahasan dalam pembelajaran. Topik adalah bagian dari tema /
sub tema. Jenis tema: intra disciplinary dan inter disciplinary
9.
Model
Reciprocal Learning
Model
pembelajaran reciprocal adalah suatu model pembelajaran yang menekankan
kemampuan membaca. Model ini diperkenalkan oleh Palincsar dan Brown (1984)
(dalam Chalsum, 2005) yang mengatakan kemampuan membaca diajarkan pengajar ke
pembelajar.
10. Model Advance Organizer
Model
ini merekomendasikan pengajar untuk menyeleksi, mengatur, dan menyajikan
informasi baru secara bermakna dan efisien. Ausubel merancang model ini untuk
memperkuat struktur kognitif pembelajar. Terdapat tiga fase penyajian dalam
model pembelajaran ini :
Fase
pertama : Penyajian advance organizer, yang meliputi :
1) Menjelaskan
tujuan satuan pelajaran
2) Menyajikan
organizer meliputi : identifikasi batasan atribut, memberikan contoh,
menyediakan bermacam-macam konteks, mengulangi istilah yang telah digolongkan
Fase kedua : Penyajian tugas materi pembelajaran,
meliputi :
1) Menyusun
urutan logis materi pelajaran bagi pembelajar
2) Membina
perhatian pembelajar
3) Menyiapkan
nahan organizer yang bersifat eksplisit
Fase
ketiga : Penguatan organisasi kognitif, meliputi :
1) Menggunakan
prinsip – prinsip rekonsiliasi secara terintegrasi
2) Mengintensifkan
pembelajaran penerimaan aktif
3) Memperoleh
pendekatan kritis terhadap pengetahuan yang dipeajari Advance organizer
merupakan pernyataan umumyang memeperkenalkan bagian-bagian utama yang etrcakup
dalam urutan pengajaran.
11. Model Berbasis Web
Model
pembelajaran berbasis web pembelajar bisa mencari visualisasi materi
pembelajaran dengan computer, pengajaran lewat internet, mencari materi
pembelajaran lewat internet dan lain sebagainya. Model pembelajaran ini
termasuk elearning. Model pembelajaran berbasis web mampu menghadapkan
karakteristik yang khas yaitu,
(1)
sebagai media interpersonal dan massa;
(2)
bersifat interaktif;
(3)
memungkinkan komunikasi secara sinkron dan asinkron
(Prakoso,
2005).
Daftar Pustaka
Nurmely, Nelly. Jurnal penelitian : Pendekatan , Model Dan Strategi, ,
dalam Model Pembelajaran. Palembang.
Wati,
Widya.2010. Makalah Strategi
Pembelajaran Model Pembelajaran. Padang: Universitas Negeri Padang.
http://model/MODEL
PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN DAN KONSELING _ Fauzan Arif Blog.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar